SENJA
TERAKHIRKU BERSAMA ANGIN
Pagi
yang cerah, sinar mentari mulai muncul dari ufuk timur.
Namaku Embun
Pagi,panggil saja Embun.Umurku 20 tahun. Aku tinggal bersama Mamah dan Papahku. Ya, aku anak tunggal. Kami selalu bersyukur
apapun yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Hari ini
aku menjalani rutinitasku seperti biasa. Aku berangkat ke kampus tempatku
menimba ilmu. Memang sekarang aku duduk di bangku kuliah, disalah satu kampus
didaerahku.Aku berangkat kesana bersama Sahabatku, Pelangi. Kami sangat dekat
sekali. Tugas pun sering kami kerjakan bersama.Aku bersahabat dengan Pelangi
sejak aku duduk di bangku SMA. Beruntungnya aku memiliki sahabat seperti dia.
Dia selalu ada saat aku senang maupun susah.
Tak
terasa kami sudah sampai di koridor kampus, saat sampai disana kami berpisah
karena Pelangi akan menemui seorang dosen. Jadi, aku sendiri memasuki kelas. 10
Menit berlalu, aku menghabiskannya dengan membaca novel. Tiba-tiba, aku
dikagetkan oleh kedatangan Pelangi.
“Embun,
ada info baru!” Seru Pelangi dengan menggebu-gebu
“Info
baru? Apa?” Jawabku
“Ada
Mahasiswa baru di Kampus ini” Pelangi
“Ya
terus apa urusannya sama kita?” Tanya ku
“Ya ga
ada urusan apa-apa sih, tapi BTW dia keren loh” Pelangi
“Ya
udahlah biarin” Jawabku lagi
Tiba-tiba
dosen untuk mata kuliah pertama kami masuk. Beliau mengatakan bahwa ada
mahasiswa baru dikelas ini. Dosen mempersilahkan masuk mahasiswa baru tersebut.
“Silahkan
memperkenalkan diri, disini adalah kelas baru kamu.” Kata Pak Dosen
“Baik
pak, terimakasih. Selamat Siang, perkenalkan nama Saya Angin Pranata, senang
berkenalan dengan kalian semua.”
“Embun,
Kamu mahasiswa baru yang aku ceritain
tadi itu ya cowok itu” Pelangi
“Hm” Aku
hanya membalas dengan deheman
“Oke
angin, silahkan kamu menempati bangku yang kosong.” Perintah Pak Dosen
“Baik
pak” Balas Angin
Ternyata
bangku kosong tersebut berada tepat disebelahku. Lalu, dia menempati bangku
barunya.
Pelajaran
pun dimulai.
Jam
pertama kuliah usai. Sudah menjadi kebiasaan ketika istirahat kami (aku dan
Pelangi) menuju kantin kampus untuk sekedar mengisi perut. Tapi, saat aku baru
saja berdiri dari tempat duduk, Mahasiswa Baru tadi (Panggil saja Angin)
menghampiri aku dan Pelangi.
“Hai,
kenalin aku Angin. Senang kenal sama kalian” Sapa nya
“Oh iya,
aku Pelangi & ini temanku, Embun” Balas Pelangi. Dia paham dengan sikapku,
aku memang tidak terlalu suka berkenalan atau dekat dengan seorang lelaki. Karna
ada Sesuatu. Yah, sesuatu yang menimpaku dulu.
Dulu aku
pernah dekat dengan seorang lelaki, aku sangat menyayanginya, begitupun
sebaliknya. Kami sudah bertunangan dan berencana segera menikah. Namun pada
saat kami sedang kumpul keluarga besar, seorang wanita datang ke rumahku. Dia
menceritakan apa yang terjadi dengannya, dia telah dinikahi oleh calon suamiku
tersebut dan ditinggalkan begitu saja tanpa sebab yang jelas. Dia berkata bahwa
mereka juga sudah memiliki anak berumur 3 bulan. Sejak saat itu aku tidak
pernah mau berkenalan dengan laki-laki lagi. Aku cukup trauma. Aku memilih
Kuliah dan berusaha melupakan itu semua. Aku merasa risih jika harus
bersinggungan dengan makhluk yang bernama Lelaki.
Aku tidak mau tersakiti lagi
utuk yang kedua kali nya. Cukup sekali saja seumur hidup.
Kembali
lagi ke Aku, Pelangi dan Angin tadi. Angin ingin menjadi teman kami berdua,
tentu saja Pelangi menerima nya dengan senang hati. Walau bagaimanapun dia juga
pantas untuk menjadi teman kami, dari raut wajahnya dia memang terlihat orang
baik-baik. Aku berusaha menepis fikiran burukku bahwa setiap laki-laki adalah
orang yang buruk. Aku harus berusaha menjadi orang yang Profesional dalam
menilai orang, bukan seperti dulu hanya berkaca pada satu orang saja.
Angin
meminta kami untuk menemaninya berkeliling kampus, sekedar mengenal
tempat-tembat di kampus. Yah, terpaksa aku dan Embun mengorbankan separuh dari
waktu istirahatku demi dirinya. Itung-itung membantu orang, begitu sajalah.
Saat mengelilingi kampus, Pelangi yang selalu menjelaskan satu persatu bagian-bagian
di kampus. Aku masih terlalu malas untuk bersinggungan dengan lelaki lagi. Ah
sudahlah, biarkan saja aku hanya membuntuti mereka dari belakang.
Akhirnya
kegiatan pengenalan kampus selesai juga, perutku sudah mulai keroncongan. Kami
bergegas ke Kantin Kampus. Kami masih memiliki 15 menit waktu istirahat sebelum
jam kedua dimulai dan itu rasanya cukup untuk makan dan minum. Angin tentu saja
ikut dengan kami, karna hanya kami yang baru dia kenal. Kami duduk di bangku yang
kosong. Angin kurasa memilih tempat yang tidak tepat, dia duduk tepat
didepanku. Tapi ya sudahlah, toh hanya tersisa tempat itu, Jadi ya biarkan
saja. Kami memesan makanan dan minuman secukupnya. Secara tidak sengaja aku
menatap lekat wajahnya sepersekian detik. Subhanallah, aku baru sadar bahwa dia
ini memang keren dan tampan, benar seperti apa yang dikatakan oleh Pelangi.
Manik matanya yang indah, Wajahnya yang berseri, Tutur katanya yang sopan.
Asthagfirullah, aku segera menghentikan fikiranku untukknya, aku tidak mau
terlalu jauh memikirkan hal-hal seperti ini. Untung saja Pelangi dan Angin
tidak menyadari apa yang aku lakukan tadi.
Kami
istirahat kami telah selesai. Kami bergegas untuk kembali ke Kelas lagi untuk
menjalani mata kuliah yang kedua. Dari tadi memang aku tak banyak bicara,
apalagi sejak adanya Angin, aku memilih diam saja. Berbicara hanya akan
membuang energiku dengan sia-sia. Sampai pulang pun aku bersikap cuek pada
mereka (read: Angin dan Pelangi).
Tak
terasa sudah beberapa hari Angin ada dalam hidupku.Oh bukan, maksudku hadir
dalam kehidupanku dan sahabatku, Pelangi. Semakin lama aku mengenal Angin, aku
semakin care dengan nya. Tak se cuek dulu. Saat kuamati kepribadiannya memang
baik. Dia selalu bercerita tentang keluarganya. Terutama Mamahnya. Dia sangat
sayang Mamahnya. Dia juga bercerita bahwa dia janji tidak akan menyakiti
Seorang Wanita pun didunia ini. Karna dengan dia menyakiti seorang perempuan
akan sama halnya dengan dia menyakiti Mamahnya sendiri.
Hari-hariku
semakin berwarna dengan adanya dia. Sahabatku menjadi bertambah. Dan aku
bahagia. Dengan setia dia mendengarkan keluh kesahku saat Pelangi malas
denganku. Karena sifatku yang selalu nyerocos sesuka hati tanpa
memperdulikannya. Well, itu memang sifat buruk ku.
Mungkinkah
aku mulai menyukainya? Atau aku hanya sekedar mengaguminya?
Oh God,
Please Help Me!!!
Semakin
hari aku semakin menyayanginya. Dan benar saja, Aku telah jatuh cinta padanya.
Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Seperti pada malam ini aku
dikiriminya pesan singkat:
“Selamat
Malam Embunku. Semangat untuk besok. Selamat tidur. Jangan lupa berdoa.”
Walaupun
hanya sebuah pesan singkat biasa, tapi menurutku itu bermakna luar biasa.
Sejenak aku menuliskan balasan untuknya:
“Selamat
Malam juga Angin. Iya, pasti. Semangat juga untukmu. Selamat tidur juga. Iya.”
Setelah
aku mengirim rentetan kata balasan tersebut, aku kembali membaca pesannya tadi.
Tunggu, Embunku (?). Apa Maksudnya?. Dengan kata tersebut bisa disimpulkan
maksudnya orang yang bernama EMBUN adalah miliknya. Aku miliknya. Kata tersebut
berhasil membuatku melayang. Sampai membuatku ketiduran.
Keesokan
harinya berlangsung seperti biasa, aku berangkat ke kampus bersama Pelangi.
Pagi ini cukup cerah. Dan semangatku semakin bertambah dengan datangnya Angin.
Seperti biasa sebelum masuk kami bersenda gurau di kantin. Ditengah-tengah
candaan kami tiba-tiba Angin bertanya serius kepadaku
“Maaf
sebelumnya Embun, sore nanti aku akan datang kerumahmu dan bertemu orang tuamu.
Apa ada waktu?” Tanya nya
“Oh iya.
Iya bisa kok. Mamah sama Papah juga lagi dirumah kok.” Kataku
“Wah, lo
mau dilamar kali.” Spontanitas jawab Pelangi seraya menyenggol tanganku
“Pelangi
apaan sih, gaje tau nggak?.” Jawabku sambil menyeruput Es Jeruk yang dari tadi
ku aduk-aduk
“Tapi
sayangnya apa yang dikatakan Pelangi benar.” Angin
“Uhuk...uhuk.
Angin kamu bercanda kan? Kamu gak bener-bener mau ngelamar aku kan?” Aku hampir saja
mati tersedak karena mendengar pernyataan mengejutkan dari Angin.
“Aku
sama sekali ngga bercanda Embun. Aku serius. Aku akan membawa orang tuaku
kerumahmu dan bertemu dengan orang tuamu. Dan aku bermaksud melamarmu. Permisi
aku mau ke kelas dulu.” Pernyataan Angin ini berhasil membuatku dan Pelangi
melongo. Aku tidak menyangka dia akan berfikir sejauh ini. Padahal kami kenal
belum genap 3 bulan. Aku juga belum mengenal orang tuanya. Aku belum ingin
menikah. Aku masih ingin kuliah.
“Embun,
Lima menit lagi masuk. Ayo kita ke kelas. Untuk masalah tadi bisa dipikirkan
nanti.” Ucapan Pelangi membuyarkan lamunaku. Air mataku hampir jatuh, tapi ku
tahan. Aku tidak mau menangis didepan umum dan didepan sahabat karibku.
Aku
mengangguk dan beranjak ke kelas. Seharian materi yang disampaikan dosen sama
sekali tak masuk di otakku. Aku melamunkan ucapan Angin tadi. Aku lemas. Aku
pusing.
Angin
pun tak ada ditempat duduknya. Dia memutuskan pulang. Dan kata salah satu
temanku dia tiba-tiba sakit sehingga dia memutuskan untuk pulang.
Setelah
aku pulang aku mendapat pesan dari Angin:
“1 jam
lagi aku sampai sana. Tolong beritahukan pada Mamah dan Papahmu. Terimakasih”
Aku
semakin frustasi. Harus bagaimana aku? Aku bingung.
Aku
ganti baju dan sedikit merapikan wajah dan rambutku yang tadinya kusut. Aku
turun dari tangga dengan sisa tenagaku.
“Pah,
mah aku mau ngomong sesuatu.” Akhirnya aku membuka mulut.
“Iya,
kamu mau ngomong apa nak? Ngomong aja.” Jawab Mamahku.
“Iya,
ngomong aja. Ngga biasanya kamu kayak gini.” Tambah Papahku.
“Jadi
gini pah, nanti temen aku bakal dateng kerumah kita. Dia cowok. Dia mau bawa
Papah dan Mamahnya kesini buat ngelamar aku.” Jelasku. Sangat terlihat
kekagetan Mereka. Aku yang terkenal tidak pernah dekat dengan seorang cowok,
dan sekarang tiba-tiba akan dilamar.
“Ok,
Papah tunggu mereka datang. Sebaiknya kamu segera siap-siap. Kalau memang ini
yang terbaik untukmu.”
“Mamah
juga setuju, toh sekarang umurmu juga sudah 20 tahun. Menurut Mamah kamu memang
sudah seharusnya menikah. Dan melupakan masa lalu mu yang kelam dengan mantan pacarmu dulu itu”
“Yaudah,
aku mau siap-siap dulu.” Pasrahku. Untung mereka berbaik hati padaku dan sama
sekali tidak memarahiku. Aku berbalik ke kamarku. Masih Bingung tentunya.
Akhirnya aku merapikan wajahku dengan menaburkan bedak dan meratakannya, aku
juga memakai lipgloss agar bibirku tak terlihat pucat.
“Aku
sudah didepan Rumahmu.” Pesan dari Angin membuyarkan kegiatanku. Ya, memang
Angin sudah tahu rumahku. Dia tak mau mengaku tahu darimana, yang jelas dia
tahu segalanya tentangku. Ah sudahlah tidak penting. Aku beranjak turun dan
memberitahukan posisi Angin beserta keluarganya ke orang tuaku.
Lalu
mereka membukakan pintu untuk mereka (Read: Keluarga Angin).
Papah
Angin menyampaikan tujuannya datang kerumahku. Papahku membalasnya dengan baik
dan menanyakan bagaimana, aku setuju atau tidak. Seolah-olah ada yang
menyuruhku mengangguk, aku mengangguk. Dan itu artinya aku setuju. Pertemuan
kali ini selesai. Pernikahanku akan dilaksanakan 1 bulan lagi. Aku merasa itu
terlalu cepat. Tetapi itu sudah menjadi kesepakatan.
1 BULAN
KEMUDIAN.
Hari
pernikahanku telah tiba, lebih tepatnya hari Ijab Qabul ku bersama Angin. Semua
keluarga berkumpul, tak terkecuali Pelangi, Sahabatku. Mereka menyaksikan hari
bahagia ini. Aku mulai menerima Angin dengan iklash. Aku bangga karena Angin adalah seorang
laki-laki yang bertanggung jawab, dan tidak mempermainkan hatiku seperti mantan pacarku dulu.
Ijab
Qabul baru saja usai. Angin melafalkannya dengan benar anpa ada kesalahan
sedikitpun. Namun, setelah itu, tiba-tiba hidung Angin mengeluarkan darah, atau
Mimisan. Dan tak lama kemudian dia pingsan. Semua orang panik, termasuk diriku.
Kami membawa nya ke Rumah Sakit milik Paman nya Angin. Aku hanya bisa berdoa
dan menangis sejak tadi.
Dokter
keluar dari ruangannya. “Keluarganya mari keruangan saya” Pinta Dokter. Papah
Angin mengisyaratkan agar aku dan Mamah Angin yang masuk. Setelah kami masuk,
Dokter mengatakan “Keadaan Angin makin memburuk, Kanker otaknya semakin
menjalar dan sekarang Masuk Stadium 4. Kemungkinan besar dia tidak memiliki
banyak waktu. Saya menyerah menanganinya.”
Apa?
Kanker? Sejak Kapan dia menderita kanker? Mengapa dihari bahagia ini aku harus
menerima kenyataan pahit ini?
Aku tak
mampu berkata-kata lagi. Aku hanya menangis. Keluar dari ruang Dokter aku
terisak dipelukan Mamahku. Keluarga Angin mengatakan apa penyekit Angin selama
ini. Keluargaku cukup terkejut, tak mengangka.
Setelah
tangisanku reda aku disuruh mamah untuk mengganti baju karena sejak tadi aku
masih menggunakan baju pengantin. Dan akhirnya aku ganti baju.
Saat aku
selesai berganti baju, aku diberi tahu bahwa Angin sudah sadar dan aku diminta
masuk ke ruangan. Disana sudah ada Mamahku, Papahku, Papah Angin, dan Mamah
Angin. Aku menggenggam tangan angin, dia berkata nanti sore akan mengajakku
untuk pergi ke suatu tempat. Sebenarnya aku agak ragu dengan keadaanya sekarang
yang masih sakit. Ttetapi dia meyakinkanku. Aku menatap satu persatu orang yang
ada disana. Mereka semua menganggukan kepala, pertanda setuju.
Sore ini
atau lebih tepatnya Senja kali ini aku dibawa ke sebuah pantai yang ber-ombak
tenang. Menikmati indahnya Matahari Tenggelam. Kami datang menggunakan mobil Angin dan seorang Sopirnya. Kami duduk
agak jauh dari mobil. Kami duduk berdampingan. Aku memeluk Angin dari samping.
“Ini
tempat yang kumaksud tadi. Aku ingin menghabiskan waktu senja kali ini
bersamamu. Dan aku mencintaimu.” Angin
“Iya,
aku akan menikmati senja yang indah ini. Yang tak akan pernah aku lupakan. Aku
juga mencintaimu” Balasku
Angin
mempererat pelukannya padaku, tapi tak lama kemudian pelukannya terlepas dan
dia pingsan lagi. Aku memanggil Pak sopir dan membawa Angin ke rumah sakit
lagi. Sepanjang perjalanan aku menangis.
“Angin
tolong jangan tinggalkan aku.” Aku terus saja mengatakan itu berkali-kali
Saat
sampai dirumah sakit semua orang panik untuk yang kesekian kalinya. Dokter
memeriksa keadaan Angin. Setelah beberapa saat Dokter keluar dan menggeleng
pasrah.
“Nyawa Angin
tidak bisa ditolong. Dia telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta.” Kata Dokter
dengan berkaca-kaca. Seketika lututku lemas, tak bisa menopang tubuhku. Aku
menangis sejadi-jadinya.
KEESOKAN
HARINYA
Pemakaman
Angin telah selesai, semua orang sudah pulang kerumah mereka masing-masing.
Tapi di sampingku masih ada Pelangi yang setia menemaniku.
“Bawalah
cinta kita bersamamu, aku sangat-sangat mencintaimu.” Pesan terakhirku untuknya
didepan batu nisan nya. Dan sebelum Aku pulang aku mencium batu nisan nya. Tolong
jaga dia Ya Allah.
*Saat
Terakhir – ST12*
Saat
perjalanan pulang Aku ditemui oleh Dokter yang selama ini mengontrol Angin.
“Saya
turut berduka, seminngu sebelum Angin meninggal dia menitipkan ini untuk
diberikan kepada anda. Bukalah setelah anda sampai dirumah. Permisi.” Dokter
itu berkata seraya memberikan Amplop dari Angin untukku.
“Iya.
Terimakasih atas bantuannya selama ini. Baik. Sekali lagi Terimakasih.”
Aku
bergegas pulang. Dan aku langsung memasuki kamar tanpa memperdulikan orang yang
ada di rumahku. Perlahan ku buka amplop itu, rupanya berisi surat.
|
Untuk Istriku. Aku sangat
mencintaimu. Mungkin saat kau menerima suratku ini, aku sudah tak lagi
berada di sisimu. Aku minta maaf karena tidak berterus terang dengan penyakitku.
Tapi itu semua kulakukan demi dirimu. Aku tak ingin kau sedih.
Jaga baik-baik dirimu, jika
kau ingin menggantikanku dengan orang lain, Aku Ikhlas. Pilihlah laki-laki
yang baik, yang bisa menjagamu lahir dan batin. Janganlah kau
berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi Setiap kau rindu aku kau bisa berdoa
untukku atau mendengarkan lagu yang kusukai. Lagu yang menghimpun nama kita
berdua, ANGIN & EMBUN.
“Ingatkah engkau kepada EMBUN
PAGI bersahaja
Yang menemanimu sebelum
cahaya
Ingatkah engkau kepada ANGIN
yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu Cinta.”
Itulah lagu favoritku. Terus
ingatlah aku meskipun aku tak lagi ada disisimu.
Dari Suamimu Tersayang: Angin
|
Aku
menangis melihat surat ini. Rangkaian kata-kata dari Suamiku. Aku bahagia
memilikinya meski hanya sebentar. Aku sangat Mencintainya.
Dan aku
tersadar bahwa kemarin adalah SENJA TERAKHIRKU BERSAMA ANGIN. Senja terindah
sepanjang hidupku. Aku tidak akan larut dalam kesedihan ini. Aku akan membuka
lembaran baru dengan kasih sayang Angin yang masih dan akan selalu membekas di
Hatiku. Aku Sayang Angin.
"Jangan pernah sia-siakan orang yang selalu berada disampingmu. Cepatlah sadar kepada mereka yang selama ini mencintaimu dalam diam" -Embun-
"Lakukanlah yang terbaik kepada orang yang mencintaimu. Jangan terus-terusan larut dalam kesedihan. Cepat buka lembaran baru" -Angin-
SELESAI
