Senin, 14 Desember 2015

SENJA TERAKHIRKU BERSAMA ANGIN

Pagi yang cerah, sinar mentari mulai muncul dari ufuk timur.

Namaku Embun Pagi,panggil saja Embun.Umurku 20 tahun. Aku tinggal bersama Mamah dan Papahku. Ya, aku anak tunggal. Kami selalu bersyukur apapun yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Hari ini aku menjalani rutinitasku seperti biasa. Aku berangkat ke kampus tempatku menimba ilmu. Memang sekarang aku duduk di bangku kuliah, disalah satu kampus didaerahku.Aku berangkat kesana bersama Sahabatku, Pelangi. Kami sangat dekat sekali. Tugas pun sering kami kerjakan bersama.Aku bersahabat dengan Pelangi sejak aku duduk di bangku SMA. Beruntungnya aku memiliki sahabat seperti dia. Dia selalu ada saat aku senang maupun susah.

Tak terasa kami sudah sampai di koridor kampus, saat sampai disana kami berpisah karena Pelangi akan menemui seorang dosen. Jadi, aku sendiri memasuki kelas. 10 Menit berlalu, aku menghabiskannya dengan membaca novel. Tiba-tiba, aku dikagetkan oleh kedatangan Pelangi.

“Embun, ada info baru!” Seru Pelangi dengan menggebu-gebu
“Info baru? Apa?” Jawabku
“Ada Mahasiswa baru di Kampus ini” Pelangi
“Ya terus apa urusannya sama kita?” Tanya ku
“Ya ga ada urusan apa-apa sih, tapi BTW dia keren loh” Pelangi
“Ya udahlah biarin” Jawabku lagi

Tiba-tiba dosen untuk mata kuliah pertama kami masuk. Beliau mengatakan bahwa ada mahasiswa baru dikelas ini. Dosen mempersilahkan masuk mahasiswa baru tersebut.

“Silahkan memperkenalkan diri, disini adalah kelas baru kamu.” Kata Pak Dosen
“Baik pak, terimakasih. Selamat Siang, perkenalkan nama Saya Angin Pranata, senang berkenalan dengan kalian semua.”
“Embun, Kamu  mahasiswa baru yang aku ceritain tadi itu ya cowok itu” Pelangi
“Hm” Aku hanya membalas dengan deheman
“Oke angin, silahkan kamu menempati bangku yang kosong.” Perintah Pak Dosen
“Baik pak” Balas Angin
Ternyata bangku kosong tersebut berada tepat disebelahku. Lalu, dia menempati bangku barunya.
Pelajaran pun dimulai.

Jam pertama kuliah usai. Sudah menjadi kebiasaan ketika istirahat kami (aku dan Pelangi) menuju kantin kampus untuk sekedar mengisi perut. Tapi, saat aku baru saja berdiri dari tempat duduk, Mahasiswa Baru tadi (Panggil saja Angin) menghampiri aku dan Pelangi.
“Hai, kenalin aku Angin. Senang kenal sama kalian” Sapa nya
“Oh iya, aku Pelangi & ini temanku, Embun” Balas Pelangi. Dia paham dengan sikapku, aku memang tidak terlalu suka berkenalan atau dekat dengan seorang lelaki. Karna ada Sesuatu. Yah, sesuatu yang menimpaku dulu.

Dulu aku pernah dekat dengan seorang lelaki, aku sangat menyayanginya, begitupun sebaliknya. Kami sudah bertunangan dan berencana segera menikah. Namun pada saat kami sedang kumpul keluarga besar, seorang wanita datang ke rumahku. Dia menceritakan apa yang terjadi dengannya, dia telah dinikahi oleh calon suamiku tersebut dan ditinggalkan begitu saja tanpa sebab yang jelas. Dia berkata bahwa mereka juga sudah memiliki anak berumur 3 bulan. Sejak saat itu aku tidak pernah mau berkenalan dengan laki-laki lagi. Aku cukup trauma. Aku memilih Kuliah dan berusaha melupakan itu semua. Aku merasa risih jika harus bersinggungan dengan makhluk yang bernama Lelaki.

Aku tidak mau tersakiti lagi utuk yang kedua kali nya. Cukup sekali saja seumur hidup.
Kembali lagi ke Aku, Pelangi dan Angin tadi. Angin ingin menjadi teman kami berdua, tentu saja Pelangi menerima nya dengan senang hati. Walau bagaimanapun dia juga pantas untuk menjadi teman kami, dari raut wajahnya dia memang terlihat orang baik-baik. Aku berusaha menepis fikiran burukku bahwa setiap laki-laki adalah orang yang buruk. Aku harus berusaha menjadi orang yang Profesional dalam menilai orang, bukan seperti dulu hanya berkaca pada satu orang saja.

Angin meminta kami untuk menemaninya berkeliling kampus, sekedar mengenal tempat-tembat di kampus. Yah, terpaksa aku dan Embun mengorbankan separuh dari waktu istirahatku demi dirinya. Itung-itung membantu orang, begitu sajalah. Saat mengelilingi kampus, Pelangi yang selalu menjelaskan satu persatu bagian-bagian di kampus. Aku masih terlalu malas untuk bersinggungan dengan lelaki lagi. Ah sudahlah, biarkan saja aku hanya membuntuti mereka dari belakang.

Akhirnya kegiatan pengenalan kampus selesai juga, perutku sudah mulai keroncongan. Kami bergegas ke Kantin Kampus. Kami masih memiliki 15 menit waktu istirahat sebelum jam kedua dimulai dan itu rasanya cukup untuk makan dan minum. Angin tentu saja ikut dengan kami, karna hanya kami yang baru dia kenal. Kami duduk di bangku yang kosong. Angin kurasa memilih tempat yang tidak tepat, dia duduk tepat didepanku. Tapi ya sudahlah, toh hanya tersisa tempat itu, Jadi ya biarkan saja. Kami memesan makanan dan minuman secukupnya. Secara tidak sengaja aku menatap lekat wajahnya sepersekian detik. Subhanallah, aku baru sadar bahwa dia ini memang keren dan tampan, benar seperti apa yang dikatakan oleh Pelangi. Manik matanya yang indah, Wajahnya yang berseri, Tutur katanya yang sopan. Asthagfirullah, aku segera menghentikan fikiranku untukknya, aku tidak mau terlalu jauh memikirkan hal-hal seperti ini. Untung saja Pelangi dan Angin tidak menyadari apa yang aku lakukan tadi.

Kami istirahat kami telah selesai. Kami bergegas untuk kembali ke Kelas lagi untuk menjalani mata kuliah yang kedua. Dari tadi memang aku tak banyak bicara, apalagi sejak adanya Angin, aku memilih diam saja. Berbicara hanya akan membuang energiku dengan sia-sia. Sampai pulang pun aku bersikap cuek pada mereka (read: Angin dan Pelangi).

Tak terasa sudah beberapa hari Angin ada dalam hidupku.Oh bukan, maksudku hadir dalam kehidupanku dan sahabatku, Pelangi. Semakin lama aku mengenal Angin, aku semakin care dengan nya. Tak se cuek dulu. Saat kuamati kepribadiannya memang baik. Dia selalu bercerita tentang keluarganya. Terutama Mamahnya. Dia sangat sayang Mamahnya. Dia juga bercerita bahwa dia janji tidak akan menyakiti Seorang Wanita pun didunia ini. Karna dengan dia menyakiti seorang perempuan akan sama halnya dengan dia menyakiti Mamahnya sendiri.

Hari-hariku semakin berwarna dengan adanya dia. Sahabatku menjadi bertambah. Dan aku bahagia. Dengan setia dia mendengarkan keluh kesahku saat Pelangi malas denganku. Karena sifatku yang selalu nyerocos sesuka hati tanpa memperdulikannya. Well, itu memang sifat buruk ku.
Mungkinkah aku mulai menyukainya? Atau aku hanya sekedar mengaguminya?
Oh God, Please Help Me!!!

Semakin hari aku semakin menyayanginya. Dan benar saja, Aku telah jatuh cinta padanya. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Seperti pada malam ini aku dikiriminya pesan singkat:

“Selamat Malam Embunku. Semangat untuk besok. Selamat tidur. Jangan lupa berdoa.”
Walaupun hanya sebuah pesan singkat biasa, tapi menurutku itu bermakna luar biasa. Sejenak aku menuliskan balasan untuknya:

“Selamat Malam juga Angin. Iya, pasti. Semangat juga untukmu. Selamat tidur juga. Iya.”

Setelah aku mengirim rentetan kata balasan tersebut, aku kembali membaca pesannya tadi. Tunggu, Embunku (?). Apa Maksudnya?. Dengan kata tersebut bisa disimpulkan maksudnya orang yang bernama EMBUN adalah miliknya. Aku miliknya. Kata tersebut berhasil membuatku melayang. Sampai membuatku ketiduran.

Keesokan harinya berlangsung seperti biasa, aku berangkat ke kampus bersama Pelangi. Pagi ini cukup cerah. Dan semangatku semakin bertambah dengan datangnya Angin. Seperti biasa sebelum masuk kami bersenda gurau di kantin. Ditengah-tengah candaan kami tiba-tiba Angin bertanya serius kepadaku

“Maaf sebelumnya Embun, sore nanti aku akan datang kerumahmu dan bertemu orang tuamu. Apa ada waktu?” Tanya nya
“Oh iya. Iya bisa kok. Mamah sama Papah juga lagi dirumah kok.” Kataku
“Wah, lo mau dilamar kali.” Spontanitas jawab Pelangi seraya menyenggol tanganku
“Pelangi apaan sih, gaje tau nggak?.” Jawabku sambil menyeruput Es Jeruk yang dari tadi ku aduk-aduk
“Tapi sayangnya apa yang dikatakan Pelangi benar.” Angin
“Uhuk...uhuk. Angin kamu bercanda kan? Kamu gak bener-bener mau ngelamar aku kan?” Aku hampir saja mati tersedak karena mendengar pernyataan mengejutkan dari Angin.
“Aku sama sekali ngga bercanda Embun. Aku serius. Aku akan membawa orang tuaku kerumahmu dan bertemu dengan orang tuamu. Dan aku bermaksud melamarmu. Permisi aku mau ke kelas dulu.” Pernyataan Angin ini berhasil membuatku dan Pelangi melongo. Aku tidak menyangka dia akan berfikir sejauh ini. Padahal kami kenal belum genap 3 bulan. Aku juga belum mengenal orang tuanya. Aku belum ingin menikah. Aku masih ingin kuliah.

“Embun, Lima menit lagi masuk. Ayo kita ke kelas. Untuk masalah tadi bisa dipikirkan nanti.” Ucapan Pelangi membuyarkan lamunaku. Air mataku hampir jatuh, tapi ku tahan. Aku tidak mau menangis didepan umum dan didepan sahabat karibku.

Aku mengangguk dan beranjak ke kelas. Seharian materi yang disampaikan dosen sama sekali tak masuk di otakku. Aku melamunkan ucapan Angin tadi. Aku lemas. Aku pusing.
Angin pun tak ada ditempat duduknya. Dia memutuskan pulang. Dan kata salah satu temanku dia tiba-tiba sakit sehingga dia memutuskan untuk pulang.

Setelah aku pulang aku mendapat pesan dari Angin:
“1 jam lagi aku sampai sana. Tolong beritahukan pada Mamah dan Papahmu. Terimakasih”
Aku semakin frustasi. Harus bagaimana aku? Aku bingung.
Aku ganti baju dan sedikit merapikan wajah dan rambutku yang tadinya kusut. Aku turun dari tangga dengan sisa tenagaku.

“Pah, mah aku mau ngomong sesuatu.” Akhirnya aku membuka mulut.
“Iya, kamu mau ngomong apa nak? Ngomong aja.” Jawab Mamahku.
“Iya, ngomong aja. Ngga biasanya kamu kayak gini.” Tambah Papahku.
“Jadi gini pah, nanti temen aku bakal dateng kerumah kita. Dia cowok. Dia mau bawa Papah dan Mamahnya kesini buat ngelamar aku.” Jelasku. Sangat terlihat kekagetan Mereka. Aku yang terkenal tidak pernah dekat dengan seorang cowok, dan sekarang tiba-tiba akan dilamar.
“Ok, Papah tunggu mereka datang. Sebaiknya kamu segera siap-siap. Kalau memang ini yang terbaik untukmu.”
“Mamah juga setuju, toh sekarang umurmu juga sudah 20 tahun. Menurut Mamah kamu memang sudah seharusnya menikah. Dan melupakan masa lalu mu yang kelam dengan mantan pacarmu dulu itu”
“Yaudah, aku mau siap-siap dulu.” Pasrahku. Untung mereka berbaik hati padaku dan sama sekali tidak memarahiku. Aku berbalik ke kamarku. Masih Bingung tentunya. Akhirnya aku merapikan wajahku dengan menaburkan bedak dan meratakannya, aku juga memakai lipgloss agar bibirku tak terlihat pucat.

“Aku sudah didepan Rumahmu.” Pesan dari Angin membuyarkan kegiatanku. Ya, memang Angin sudah tahu rumahku. Dia tak mau mengaku tahu darimana, yang jelas dia tahu segalanya tentangku. Ah sudahlah tidak penting. Aku beranjak turun dan memberitahukan posisi Angin beserta keluarganya ke orang tuaku.

Lalu mereka membukakan pintu untuk mereka (Read: Keluarga Angin).
Papah Angin menyampaikan tujuannya datang kerumahku. Papahku membalasnya dengan baik dan menanyakan bagaimana, aku setuju atau tidak. Seolah-olah ada yang menyuruhku mengangguk, aku mengangguk. Dan itu artinya aku setuju. Pertemuan kali ini selesai. Pernikahanku akan dilaksanakan 1 bulan lagi. Aku merasa itu terlalu cepat. Tetapi itu sudah menjadi kesepakatan.

1 BULAN KEMUDIAN.
Hari pernikahanku telah tiba, lebih tepatnya hari Ijab Qabul ku bersama Angin. Semua keluarga berkumpul, tak terkecuali Pelangi, Sahabatku. Mereka menyaksikan hari bahagia ini. Aku mulai menerima Angin dengan iklash.  Aku bangga karena Angin adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab, dan tidak mempermainkan hatiku seperti mantan pacarku dulu.

Ijab Qabul baru saja usai. Angin melafalkannya dengan benar anpa ada kesalahan sedikitpun. Namun, setelah itu, tiba-tiba hidung Angin mengeluarkan darah, atau Mimisan. Dan tak lama kemudian dia pingsan. Semua orang panik, termasuk diriku. Kami membawa nya ke Rumah Sakit milik Paman nya Angin. Aku hanya bisa berdoa dan menangis sejak tadi.

Dokter keluar dari ruangannya. “Keluarganya mari keruangan saya” Pinta Dokter. Papah Angin mengisyaratkan agar aku dan Mamah Angin yang masuk. Setelah kami masuk, Dokter mengatakan “Keadaan Angin makin memburuk, Kanker otaknya semakin menjalar dan sekarang Masuk Stadium 4. Kemungkinan besar dia tidak memiliki banyak waktu. Saya menyerah menanganinya.”

Apa? Kanker? Sejak Kapan dia menderita kanker? Mengapa dihari bahagia ini aku harus menerima kenyataan pahit ini?
Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku hanya menangis. Keluar dari ruang Dokter aku terisak dipelukan Mamahku. Keluarga Angin mengatakan apa penyekit Angin selama ini. Keluargaku cukup terkejut, tak mengangka.

Setelah tangisanku reda aku disuruh mamah untuk mengganti baju karena sejak tadi aku masih menggunakan baju pengantin. Dan akhirnya aku ganti baju.
Saat aku selesai berganti baju, aku diberi tahu bahwa Angin sudah sadar dan aku diminta masuk ke ruangan. Disana sudah ada Mamahku, Papahku, Papah Angin, dan Mamah Angin. Aku menggenggam tangan angin, dia berkata nanti sore akan mengajakku untuk pergi ke suatu tempat. Sebenarnya aku agak ragu dengan keadaanya sekarang yang masih sakit. Ttetapi dia meyakinkanku. Aku menatap satu persatu orang yang ada disana. Mereka semua menganggukan kepala, pertanda setuju.

Sore ini atau lebih tepatnya Senja kali ini aku dibawa ke sebuah pantai yang ber-ombak tenang. Menikmati indahnya Matahari Tenggelam. Kami datang menggunakan mobil Angin dan seorang Sopirnya. Kami duduk agak jauh dari mobil. Kami duduk berdampingan. Aku memeluk Angin dari samping.
“Ini tempat yang kumaksud tadi. Aku ingin menghabiskan waktu senja kali ini bersamamu. Dan aku mencintaimu.” Angin
“Iya, aku akan menikmati senja yang indah ini. Yang tak akan pernah aku lupakan. Aku juga mencintaimu” Balasku
Angin mempererat pelukannya padaku, tapi tak lama kemudian pelukannya terlepas dan dia pingsan lagi. Aku memanggil Pak sopir dan membawa Angin ke rumah sakit lagi. Sepanjang perjalanan aku menangis.

“Angin tolong jangan tinggalkan aku.” Aku terus saja mengatakan itu berkali-kali
Saat sampai dirumah sakit semua orang panik untuk yang kesekian kalinya. Dokter memeriksa keadaan Angin. Setelah beberapa saat Dokter keluar dan menggeleng pasrah.
“Nyawa Angin tidak bisa ditolong. Dia telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta.” Kata Dokter dengan berkaca-kaca. Seketika lututku lemas, tak bisa menopang tubuhku. Aku menangis sejadi-jadinya.

KEESOKAN HARINYA
Pemakaman Angin telah selesai, semua orang sudah pulang kerumah mereka masing-masing. Tapi di sampingku masih ada Pelangi yang setia menemaniku.
“Bawalah cinta kita bersamamu, aku sangat-sangat mencintaimu.” Pesan terakhirku untuknya didepan batu nisan nya. Dan sebelum Aku pulang aku mencium batu nisan nya. Tolong jaga dia Ya Allah.
*Saat Terakhir – ST12*

Saat perjalanan pulang Aku ditemui oleh Dokter yang selama ini mengontrol Angin.
“Saya turut berduka, seminngu sebelum Angin meninggal dia menitipkan ini untuk diberikan kepada anda. Bukalah setelah anda sampai dirumah. Permisi.” Dokter itu berkata seraya memberikan Amplop dari Angin untukku.
“Iya. Terimakasih atas bantuannya selama ini. Baik. Sekali lagi Terimakasih.”
Aku bergegas pulang. Dan aku langsung memasuki kamar tanpa memperdulikan orang yang ada di rumahku. Perlahan ku buka amplop itu, rupanya berisi surat.

Untuk Istriku. Aku sangat mencintaimu. Mungkin saat kau menerima suratku ini, aku sudah tak lagi berada di sisimu. Aku minta maaf karena tidak berterus terang dengan penyakitku. Tapi itu semua kulakukan demi dirimu. Aku tak ingin kau sedih.

Jaga baik-baik dirimu, jika kau ingin menggantikanku dengan orang lain, Aku Ikhlas. Pilihlah laki-laki yang baik, yang bisa menjagamu lahir dan batin. Janganlah kau berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi Setiap kau rindu aku kau bisa berdoa untukku atau mendengarkan lagu yang kusukai. Lagu yang menghimpun nama kita berdua, ANGIN & EMBUN.

“Ingatkah engkau kepada EMBUN PAGI bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkah engkau kepada ANGIN yang berhembus mesra
Yang kan membelaimu Cinta.”
Itulah lagu favoritku. Terus ingatlah aku meskipun aku tak lagi ada disisimu.
Dari Suamimu Tersayang: Angin

Aku menangis melihat surat ini. Rangkaian kata-kata dari Suamiku. Aku bahagia memilikinya meski hanya sebentar. Aku sangat Mencintainya.

Dan aku tersadar bahwa kemarin adalah SENJA TERAKHIRKU BERSAMA ANGIN. Senja terindah sepanjang hidupku. Aku tidak akan larut dalam kesedihan ini. Aku akan membuka lembaran baru dengan kasih sayang Angin yang masih dan akan selalu membekas di Hatiku. Aku Sayang Angin.

"Jangan pernah sia-siakan orang yang selalu berada disampingmu. Cepatlah sadar kepada mereka yang selama ini mencintaimu dalam diam" -Embun-

"Lakukanlah yang terbaik kepada orang yang mencintaimu. Jangan terus-terusan larut dalam kesedihan. Cepat buka lembaran baru" -Angin-


SELESAI